DIALEKSIS.COM | Opini - Penemuan cadangan migas di kawasan Andaman merupakan salah satu kabar paling menggembirakan bagi masa depan sektor energi Indonesia. Potensi yang dimiliki kawasan tersebut tidak hanya menjanjikan peningkatan produksi energi nasional, tetapi juga membuka peluang besar bagi transformasi ekonomi Aceh. Namun, keberhasilan pengelolaan migas Andaman tidak semata mata ditentukan oleh besarnya cadangan yang tersedia, melainkan oleh pilihan strategi pembangunan yang diambil pemerintah. Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah Andaman akan kembali menjadi sumber bahan baku yang dikirim ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri, atau justru menjadi fondasi lahirnya pusat industri hilir yang mampu menciptakan nilai tambah bagi Indonesia?
DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sejumlah korporasi (termasuk BUMN) melirik hilirisasi migas di KEK Arun Lhokseumawe, Aceh, kendati proyek cadangan gas raksasa di lepas pantai Aceh (Blok Andaman) masih berproses.
DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Rencana pengembangan Lapangan Tangkulo di Wilayah Kerja South Andaman dinilai tidak boleh mengabaikan kepentingan ekonomi Aceh. Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK Arun, Lhokseumawe, disebut harus mendapatkan peran strategis sebagai pusat penerimaan, pemrosesan, dan hilirisasi migas dari proyek tersebut.
DIALEKSIS.COM | Cilegon - Pemerintah meresmikan pabrik petrokimia New Ethylene Project (NEP) milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Banten. Fasilitas senilai USD3,9 miliar atau sekitar Rp61 triliun ini ditargetkan mampu menggantikan impor produk petrokimia hingga USD1,4 miliar per tahun.
DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kepala Bidang Migas Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Dian Budi Dharma membawa peta energi masa depan. Ia menyebut blok-blok migas laut dalam yang telah menunjukkan cadangan besar.
DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia terkait peningkatan lifting migas dari sumur idle dan hilirisasi LPG. Faizar Rianda, Presiden Dewan Energi Mahasiswa Aceh (DEM Aceh), menyoroti sejumlah masalah yang melekat pada pernyataan Bahlil.